Reportase
investigasi
atau
liputan
investigasi
sudah
lama populer
di
dunia
pers. Usianya
bahkan
sama
tuanya
dengan
keberadaan
media massa
itu
sendiri.
Kata
investigatif
berasal
dari
bahasa
Latin: vestigium
yang artinya
jejak
kaki. Sedang
kata
reporting
berasal
dari
bahasa
Latin: reportare,
yaitu
membawa
sesuatu
dari
suatu
tempat.
Paul N. Williams, menerjemahkan
vestigium dengan
menganalogikan
wartawan
yang berburu
untuk
mendapatkan
predator. Si reporter mengikuti
jejak
langkah
sang predator ke
mana
pun ia
pergi:
memanjat
pohon,
mengamati
ada
apa
di
balik
bebatuan,
untuk
mendapatkan
tanda
keberadaan
predator.
Ciri utama liputan investigasi adalah kasusnya masih tersembunyi. Masih misterius. Penelisikan diperlukan karena kasus yang masuk kriteria investigasi ibarat sebuah gunung es yang berdiri di tengah lautan. Yang tampak hanya sebagian kecil puncaknya, sementara batang tubuhnya tenggelam tak terlihat di bawah samudera.
Menggarap liputan investigasi membutuhkan waktu lumayan panjang untuk sampai pada titik akhir pengungkapan. Mulai dari penemuan masalah, pemetaan masalah, terjun ke lapangan hingga penulisan akhir sebelum naik cetak.
Dalam “The Elements of Journalism” (April
2001) karya Bill
Kovach dan Tom Rosenstiel,
investigative reporting merupakan artikulasi dari elemen kelima jurnalisme yang
bertugas “memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang
tertindas.” Praktiknya sinonim dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Si penulis berhasil menunjukkan siapa yang
salah, siapa yang
melakukan pelanggaran hukum,
yang seharusnya jadi terdakwa dalam suatu kejahatan publik yang
sebelumnya dirahasiakan.
Idealnya liputan investigasi dikerjakan sebuah tim dengan anggota yang memadai. Luasnya skala masalah, banyaknya sumber, aneka kendala – semuanya membutuhkan konsentrasi dan penanganan tersendiri – hanya dapat diselesaikan dengan baik oleh sebuah tim yang
secara kuantitas dan kualitas memenuhi syarat.
Karya investigasi awalnya dipelopori Ida Tarbell (1857–1944) dari majalah
McClure’s Magazine. Pada
1902, Tarbell menurunkan
serial laporan tentang monopoli perusahaan
Standard Oil Company. Laporan tersebut, belakangan dijadikan buku, mendorong Mahkamah Agung Amerika Serikat memerintahkan perusahaan itu dibagi dua.
Liputan investigasi kian populer,setelah tokoh pers dunia: Josep
Pulitzer berseteru dengan Presiden Amerika Serikat,
Theodore Roosevelt. Ketika itu,
Pulitzer – pendiri the
Columbia University School of Journalism – membongkar kasus suap dalam pembelian tanah untuk Kanal Panama, yang diduga berkaitan dengan
Roosevelt. Pulitzer wafat tahun
1911, pada usia 64 tahun. Namanya diabadikan sebagai penghargaan karya jurnalistik
paling prestisius bagi jurnalis berprestasi di dunia.
Reportase investigasi berkibar lagi tahun 1974, menyusul munculnya karya investigasi dua wartawan harian The Washington Post yang menghebohkan dunia, yaitu Carl
Bernstein dan Bob
Woodward. Keduanya berhasil membongkar penyelewengan dana pemilu Partai Demokrat yang
menjagokan
Richard Nixon sebagai Presiden Amerika Serikat. Demikian monumentalnya, karya mereka diterbitkan dalam buku All
The President’s Men,
yang kemudian diangkat ke layar lebar.
Karya Bernstein dan Woodward itu pula yang mengilhami didirikannya paguyuban
reporter dan
editor reportase investigasi terkemuka: Investigative
Reporters and Editors Inc (IRE), di Kolombia, Amerika Serikat, tahun 1975.
